2.1.17

the shredded dreams

Minggu lalu, gw dan partner kerja gw lagi beberes berkas-berkas kantor, yang paling banyak adalah CV lamaran yang masuk lewat pos, lewat titipan saudara, teman, pacar, dan lain-lainnya.
Kita sortir, dan akhirnya CV yang masuk sebelum tahun 2016 akan kita destroy, hancurkan, dan kita bakar. Belum sampai tahap bakar, baru beberapa yang kita hancurkan pakai paper shredder.

dan pada momen itulah, gw merasa bersalah. Kenapa? Karena yang gw hancurkan bukanlah sekedar kertas, yang gw hancurkan adalah mimpi-mimpi dan harapan mereka yang ingin bekerja. Mereka yang meluangkan waktunya untuk menyiapkan berkas-berkas tersebut untuk dikirmkan, untuk dibaca. dan untuk diterima. 

Gw ga akan tahu perjuangan mereka untuk menyiapkan berkas-berkas tersebut. Mungkin mereka harus ke warnet dulu untuk mengetik, mengeprint, memfotocopy, mencetak foto, membeli amplop,, ke kantor pos. Dengan harapan satu, semoga diterima. Mungkin mereka harus ngeluarin tabungan mereka untuk menyiapkan semua berkas-berkas tersebut. Mungkin ga seberapa bagi kita, tapi mungkin bagi mereka itu cukup banyak. 
Dan apa?

Banyak dari lamaran-lamaran tersebut bahkan baru dibuka pas beberes kemarin, mending kalau dibaca, ngga,,, langsung kita hancurkan kalau ternyata itu lamaran datang sebelum tahun 2016. 

dan gw ga hanya menghancurkan harapan mereka, tapi harapan keluarga mereka. Agar si pelamar diterima dan bisa bekerja. 

mungkin terlalu berlebihan apa yang gw rasakan bagi beberapa orang, tapi gw pernah merasakan stressnya mencari pekerjaan, jadi gw tau, gimana stressnya kalau ada yang berharap ke lo.

mungkin itu hanya kertas, tapi di situlah terletak kata 'semoga bisa diterima'. 

dan gw kembali membayangkan, kalo untuk menghancurkan kertas aja gw merasa emosional, bagaimana perasaan para dokter yang harus memberikan kabar buruk pada keluarga pasien? bagaimana perasaan para dokter yang harus menerima bahwa pasien yang dirawatnya meninggal?
bagaimana perasaan para dokter yang harus melihat pasiennya yang dioperasi menghembuskan nafasnya terakhir?

dan karena itulah gw kembali bersyukur karena tidak jadi masuk kedokteran.

alhamdulillaaaah... 

No comments:

Post a Comment

ingin berceloteh juga? ;)